ROKAN HULU, mimbardesa.com— Upaya menjaga dan merawat jejak sejarah serta warisan budaya masyarakat Rokan Hulu terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan ziarah ke sejumlah situs bersejarah yang berada di wilayah Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu.
Kegiatan ziarah tersebut dilakukan ke makam Sutan Laut Api, sekaligus meninjau lokasi yang dipercaya masyarakat sebagai bekas telapak kaki terakhir Suri Andung Jati (Boru Namora), serta kawasan Rumah Atok Ijuk dan Napitu Huta-Huta Hati.
Ziarah tersebut turut diikuti oleh Pengurus Hulu Balang LAMR Rokan Hulu sebagai bagian dari kepedulian terhadap keberadaan situs-situs sejarah dan budaya yang selama ini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Rokan Hulu.
Kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ziarah, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat secara langsung kondisi situs-situs bersejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat.
Merawat Jejak Sejarah Leluhur
Keberadaan makam, tempat persinggahan dan berbagai peninggalan yang berkaitan dengan tokoh-tokoh masa lalu merupakan bagian dari kekayaan sejarah daerah.
Makam Sutan Laut Api, misalnya, menjadi salah satu lokasi yang masih dikenal dan dihormati oleh masyarakat.
Demikian pula dengan lokasi yang dipercaya sebagai bekas telapak kaki terakhir Suri Andung Jati atau Boru Namora. Keberadaan lokasi tersebut memiliki cerita yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat.
Cerita sejarah semacam ini dinilai penting untuk terus didokumentasikan agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Terlebih, generasi muda saat ini semakin jauh dari cerita sejarah lokal karena minimnya dokumentasi dan ruang pembelajaran mengenai sejarah kampung serta tokoh-tokoh leluhur.
Hulu Balang LAMR Rohul Dorong Pelestarian
Keterlibatan Pengurus Hulu Balang LAMR Rokan Hulu dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk ikut menjaga adat, budaya dan sejarah masyarakat Melayu di daerah.
Warisan sejarah tidak selalu berbentuk bangunan megah atau benda bersejarah yang tersimpan di museum. Banyak peninggalan sejarah yang justru berada di tengah masyarakat dalam bentuk makam leluhur, lokasi persinggahan, rumah tua, tempat keramat, cerita rakyat dan tradisi lisan.
Karena itu, situs-situs tersebut membutuhkan perhatian dan pendokumentasian secara serius.
Jika tidak dirawat, bukan tidak mungkin lokasi maupun cerita yang menyertainya akan hilang dan hanya tersisa dalam ingatan beberapa orang tua.
Rumah Atok Ijuk dan Napitu Huta-Huta Hati
Dalam rangkaian ziarah tersebut, perhatian juga diarahkan pada kawasan Rumah Atok Ijuk dan Napitu Huta-Huta Hati di Desa Rambah Tengah Barat.
Lokasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian sejarah dan cerita masyarakat setempat yang perlu ditelusuri serta didokumentasikan lebih lanjut.
Kajian terhadap situs sejarah lokal idealnya dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari tokoh adat, ninik mamak, budayawan, sejarawan, pemerintah desa, pemerintah daerah hingga masyarakat yang mengetahui sejarah secara turun-temurun.
Dengan cara tersebut, setiap informasi yang berkembang di tengah masyarakat dapat dicatat dan dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya.
Jangan Biarkan Sejarah Hilang
Pelestarian situs sejarah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat, lembaga adat dan generasi muda juga memiliki peran penting.
Pemerintah daerah dapat mengambil langkah lebih jauh dengan melakukan inventarisasi situs-situs sejarah yang tersebar di Rokan Hulu.
Setiap lokasi dapat didokumentasikan melalui foto, koordinat lokasi, sejarah keberadaan, keterangan tokoh adat serta cerita masyarakat yang berkaitan dengannya.
Apabila memiliki nilai sejarah yang kuat, situs tersebut dapat dikaji untuk mendapatkan perlindungan dan pengembangan sebagai bagian dari wisata sejarah dan budaya.
Hal ini juga sejalan dengan semangat membangun Rokan Hulu sebagai daerah yang tidak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Menjadi Bahan Edukasi Generasi Muda
Situs sejarah seperti makam tokoh leluhur dan lokasi yang memiliki cerita sejarah dapat dijadikan ruang edukasi bagi anak-anak sekolah maupun generasi muda.
Mereka dapat belajar bahwa sejarah tidak hanya terdapat dalam buku pelajaran, tetapi juga ada di sekitar mereka.
Dengan mengetahui sejarah leluhur dan asal-usul daerah, generasi muda diharapkan memiliki rasa bangga terhadap identitas budaya daerahnya.
Karena itu, kegiatan ziarah seperti ini memiliki makna yang lebih luas. Selain penghormatan kepada leluhur, kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan penelitian dan dokumentasi sejarah lokal secara lebih serius.
Perlu Kajian dan Dokumentasi
Ke depan, diperlukan kajian lebih mendalam terhadap Sutan Laut Api, Suri Andung Jati (Boru Namora), Rumah Atok Ijuk dan Napitu Huta-Huta Hati.
Keterangan para tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui sejarah secara turun-temurun perlu dihimpun dan didokumentasikan sebelum para pelaku sejarah lisan tersebut semakin berkurang.
Dokumentasi itu nantinya dapat menjadi bahan bagi pemerintah daerah dan lembaga adat dalam menentukan langkah pelestarian.
Apabila hasil penelitian menunjukkan adanya nilai sejarah dan budaya yang kuat, kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai salah satu bagian dari jalur wisata sejarah dan budaya Rambah.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjaga situs tersebut sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber pengetahuan dan kebanggaan daerah.
Sejarah Adalah Identitas
Ziarah ke makam Sutan Laut Api dan peninjauan jejak Suri Andung Jati menjadi pengingat bahwa Rokan Hulu memiliki sejarah panjang yang harus dirawat.
Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Sejarah adalah identitas yang menentukan bagaimana generasi hari ini mengenal akar budayanya dan bagaimana generasi mendatang memahami asal-usulnya.
Karena itu, keberadaan situs-situs sejarah di Desa Rambah Tengah Barat dan wilayah lainnya di Rokan Hulu perlu mendapatkan perhatian bersama.
Kegiatan yang dilakukan bersama Pengurus Hulu Balang LAMR Rokan Hulu diharapkan menjadi langkah awal untuk semakin serius menggali, mendokumentasikan dan melestarikan sejarah serta budaya lokal.
Jangan sampai ketika generasi mendatang bertanya tentang jejak leluhurnya, yang tersisa hanya cerita—sementara tempat dan bukti sejarahnya telah hilang.