Kampar, Mimbardesa.com – Konflik yang terjadi di tubuh Koperasi Nenek Eno Senama Nenek (KNES) di Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, terus bergulir bak bola salju. Setelah rentetan peristiwa kericuhan, bentrok antar kubu, hingga keluhan petani mengenai gaji yang tak kunjung cair, mitra pemodal KNES akhirnya angkat bicara.
H Khairuddin Siregar, selaku mitra mandiri, pemodal, sekaligus Direktur CV Elsa, memberikan klarifikasi terkait tudingan miring yang mengarah pada manajemen keuangan koperasi dan keterlambatan pembayaran gaji petani. Dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (23/11/2025), H Khairuddin menegaskan posisi pihaknya yang justru mengalami kerugian besar di tengah konflik ini.
Awal Mula Kemitraan dan Tumpukan Utang
H Khairuddin menjelaskan bahwa keterlibatannya dengan KNES bermula pada tahun 2019, tak lama setelah Presiden Joko Widodo menyerahkan kebun sawit eks PTPN V tersebut kepada masyarakat Desa Senama Nenek.
"Saat itu kita langsung bergabung untuk mensuplai pupuk dan semua keperluan yang ada. Waktu itu belum atas nama CV Elsa, tapi masih atas nama saya pribadi dan itu berlaku sampai sekarang," ujar H Khairuddin Siregar.
Namun, masalah mulai muncul pada November 2023. Operasional KNES mendadak berhenti total tanpa alasan yang jelas bagi pihak pemodal. Akibat kekosongan pengelolaan tersebut, kebun sawit yang seharusnya produktif justru menjadi sasaran penjarahan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
"Akibat terhentinya operasi itu, KNES memiliki tunggakan kepada kami sekitar Rp 4 Miliar lebih untuk biaya perawatan dan pupuk. Dari bulan 11 tahun 2023 sampai bulan 4 tahun 2024, kebun tidak ada yang merawat. Banyak orang masuk menjarah, memanen sendiri, dan mengambil berondolan," ungkapnya.
Upaya Penyelamatan yang Berujung Minus
Melihat kondisi kebun yang terbengkalai dan merasa masih memiliki aset piutang di sana, pada April 2024 H Khairuddin berinisiatif mengajak pihak koperasi, pemerintah desa, dan Upika Tapung Hulu untuk duduk bersama. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menggandeng pihak outsourcing guna menghidupkan kembali operasional koperasi.
"Alhamdulillah, dengan adanya outsourcing ini koperasi bisa kembali beroperasi. Sejak itu, mana yang seharusnya dapat gaji, akhirnya mendapat gaji," jelas H Khairuddin Siregar.
Demi memulihkan kondisi kebun seluas 2.800 hektare yang sempat mati total, H Khairuddin kembali menyuntikkan dana segar sebesar Rp 1 Miliar. Namun, bukannya untung, total utang koperasi kepadanya kini membengkak hingga hampir menyentuh angka Rp 10 Miliar.
Alasan Gaji Petani Tak Cair
Menjawab keresahan warga terkait gaji yang tak kunjung cair belakangan ini sebagaimana diberitakan sebelumnya di tengah memanasnya konflik KNES, H Khairuddin memberikan alasan logis. Ia membantah bahwa CV Elsa enggan membayar, melainkan karena kondisi keuangan yang minus dan situasi desa yang tidak kondusif.
"Hari ini CV Elsa itu minus masih di angka Rp 500 sampai 600 juta. Bulan kemarin kami selalu menalangi gaji hampir Rp 800 juta walau kondisi minus. Tapi untuk bulan ini, kami tidak mau menalangi karena situasi di dalam sana (Desa Senama Nenek) sangat ribut," tegasnya.
H Khairuddin menekankan bahwa dana talangan biasanya diberikan dengan harapan akan tertutup oleh hasil panen bulan berikutnya. Namun, dengan adanya kericuhan dan blokade, pihaknya tidak memiliki jaminan bahwa uang talangan tersebut akan kembali.
"Jika masyarakat ribut seperti ini, apa yang mau ditalangi? Jadi kita bukan tidak mau membayar gaji, tapi KNES masih minus utang. Jika ribut terus, siapa yang mau bertanggung jawab memulangkan uang saya? Utang lama saja belum selesai, utang baru sudah banyak lagi," keluhnya.
Harapan Pengembalian Modal
H Khairuddin menegaskan bahwa niatnya bertahan di KNES bukan lagi mencari keuntungan, melainkan semata-mata agar modalnya bisa kembali. Ia merasa menjadi pihak yang paling dirugikan karena telah membiayai perbaikan kebun dan operasional tanpa mendapatkan hasil.
"Saya sudah merugi untuk membayar gaji mereka, mendahulukan uang saya untuk perbaikan kebun. Jadi saya tidak pernah mendapatkan hasil dari pekerjaan KNES ini. Saya bermitra hanya berharap uang saya kembali," tuturnya pasrah.
Mengenai penyelesaian konflik, H Khairuddin menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Ia menyebutkan bahwa masalah ini telah dibawa ke ranah Pemerintah Kabupaten Kampar dan diharapkan akan ada solusi pada pertemuan yang dijadwalkan Rabu atau Kamis mendatang.
"Intinya selama KNES dipegang CV Elsa kemarin, gaji sudah meningkat. Tapi dengan adanya kejadian masyarakat ribut ini, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin kita melawan masyarakat. Harapan kami bagaimanapun penyelesaiannya nanti, uang kami tetap dikembalikan," pungkas H Khairuddin Siregar.
Sebelumnya, konflik di tubuh KNES memang telah memicu serangkaian gejolak. Mulai dari kericuhan warga yang dilarang panen, dugaan rangkap jabatan Kepala Desa, hingga bentrokan antar dua kubu koperasi yang membuat warga mendesak campur tangan pemerintah pusat. Perdamaian terkait bentrok fisik dikabarkan telah dilakukan di Polres Kampar, namun penyelesaian manajerial dan finansial masih menunggu mediasi Pemkab.***