Pemkab Demak berkomitmen wujudkan program satu desa satu produk

Pemkab Demak berkomitmen wujudkan program satu desa satu produk
Salah satu perajin aneka produk berbahan baku enceng gondok asal Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menunjukkan hasil kerajinannya. ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

MimbarDesa.com - Pemerintah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menyatakan komitmennya untuk merealisasikan program satu desa satu produk atau one village one product, sebagai upaya mengembangkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

"Dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait memang sudah mendukung program one village one product atau OVOP melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan membuat kerajinan hingga pengemasannya," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Akhmad Sugiharto di Demak, Jateng, Senin.

Ia mencatat di beberapa desa di Kabupaten Demak sudah mulai muncul aneka produk yang bisa didorong menjadi produk khas desa setempat.

Di antaranya, ada batik tulis maupun batik lukis khas Demak, pengasapan ikan, kerajinan enceng gondok, kaligrafi, olahan buah mangrove, rebana, jambu, serta masih banyak lagi yang memang bisa dikembangkan menjadi produk khas desa.

Pada rapat koordinasi dengan kepala desa dan BPD, kata dia, pihaknya juga mendorong pemerintah desa untuk mewujudkan program OVOP.

"Selain bisa meningkatkan roda perekonomian masyarakat, tentunya bisa menjadi bagian dari upaya pemberdayaan UMKM lokal menjadi lebih berdaya saing," ujarnya.

Sumartiningsih, salah satu perajin aneka produk berbahan baku enceng gondok asal Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, mengakui bisa membuat aneka produk enceng gondok dan memasarkannya juga berkat ikut pelatihan yang diselenggarakan Pemkab Demak.

Jenis pelatihan yang diikuti, yakni mulai dari pelatihan pemasaran, kemasan, hingga pernah diajak studi banding.

Produk dari bahan baku enceng gondok yang sudah dibuat, antara lain ada tas, tempat tisu, vas bunga, gantungan kunci, sandal, dan baki untuk buah-buahan.

Harga jual produknya, kata dia, bervariasi antara yang termurah Rp5.000 hingga yang paling mahal seharga Rp800 ribu.

"Agar menjadi produk andalan di desa, tentunya membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju, baik tenaga kerja maupun bahan bakunya karena sebagian masih harus didatangkan dari Semarang," ujarnya. *

Berita Lainnya

Index