MENGUATKAN PERSATUAN HASIBUAN, MENEGUHKAN PERSAUDARAAN Pengukuhan Pengurus PARHARI Lima Kabupaten/Kota Provinsi Riau dalam Memperingati Milad ke-2 PARHARI, 27 September 2026 Oleh: Dr. H. Kalayo Hasibuan, M.Ed-TESOL Ketua P

Senin, 28 September 2026 | 17:47:54 WIB

PEKANBARU, mimbardesa.com — Ada peristiwa yang selesai ketika acara ditutup. Tetapi ada pula peristiwa yang justru baru dimulai ketika prosesi berakhir.

Bagi saya, Pengukuhan Pengurus PARHARI lima Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau sekaligus peringatan Milad ke-2 PARHARI di Aula PTPN V Pekanbaru, Minggu, 27 September 2026, harus ditempatkan dalam makna yang kedua: sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memperkuat persatuan Hasibuan dan meneguhkan persaudaraan.

Pengukuhan bukan sekadar pergantian atau penetapan struktur organisasi. Ia adalah peneguhan amanah. Ketika seorang ketua menerima mandat organisasi, yang diterima sesungguhnya bukan hanya sebuah jabatan, tetapi tanggung jawab untuk menjaga hubungan kekeluargaan, menghidupkan semangat kebersamaan, dan memastikan PARHARI hadir memberi manfaat. Itulah sebabnya saya memandang momentum ini bukan sebagai seremoni semata.

Lima Kabupaten/Kota, Satu Semangat Persaudaraan

Lima pengurus Kabupaten/Kota yang dikukuhkan—Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, dan Kabupaten Bengkalis—merupakan bagian penting dari proses memperluas dan memperkuat jaringan persaudaraan Hasibuan di Provinsi Riau.

Perbedaan wilayah tidak boleh menjadi jarak dalam persaudaraan. Justru semakin luas wilayah kepengurusan, semakin besar pula kesempatan untuk membangun komunikasi, saling membantu, memperkuat silaturahmi, dan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi anggota serta masyarakat.

Pada momentum pengukuhan tersebut, Bendera Pataka PARHARI diserahkan kepada masing-masing Ketua Pengurus Kabupaten/Kota. Pataka bukan sekadar simbol organisasi. Ia mengandung pesan tentang identitas, kehormatan, dan amanah yang harus dijaga bersama.

Saya berharap setiap pengurus yang menerima pataka tersebut memahami satu hal: organisasi bukan tempat mencari kedudukan, tetapi ruang untuk mengabdi.

PARHARI adalah Rumah Bersama

Kehadiran Dewan Pembina, Dewan Penasehat, seluruh pengurus, serta Naposo Nauli Bulung PARHARI dalam kegiatan tersebut memperlihatkan satu hal penting: PARHARI membutuhkan keterlibatan lintas generasi.

Organisasi tidak boleh hanya hidup di kalangan pengurus. PARHARI harus menjadi rumah bersama—tempat orang tua dan sesepuh dihormati, generasi muda diberi ruang, dan seluruh keluarga besar Hasibuan dapat membangun komunikasi serta kebersamaan. Karena itu, kehadiran Naposo Nauli Bulung menjadi sangat penting.

Kita tidak ingin generasi muda hanya menerima nama Hasibuan sebagai identitas marga. Mereka harus memahami sejarah, tarombo, bahasa, adat, seni, serta nilai-nilai luhur yang menyertainya. Sebab, identitas tanpa pemahaman akan mudah kehilangan makna.

Ketika Budaya Berbicara di Tengah Generasi Digital

Di tengah arus digitalisasi dan globalisasi, pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi apakah budaya kita akan berubah. Budaya pasti berhadapan dengan perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: nilai apa yang harus tetap kita wariskan? Karena itu, kehadiran Gordang Sembilan dan Tari Tortor dalam peringatan Milad ke-2 PARHARI bukan sekadar hiburan.

Keduanya menjadi pengingat bahwa budaya harus diberi ruang untuk hidup.

Budaya tidak cukup hanya dipertontonkan pada acara adat. Budaya harus dipahami, dipraktikkan, didokumentasikan, dan diwariskan. Begitu pula dengan nilai Dalihan Na Tolu: Hormat Marmora, Manat Markahanggi, Elek Maranak Boru. Nilai tersebut bukan sekadar ungkapan adat. Di dalamnya terdapat etika hubungan sosial: menghormati, menjaga, mengayomi, dan membangun kehidupan bersama. Dalam organisasi, prinsip tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun komunikasi yang sehat dan persaudaraan yang kuat.

Poda Na Lima: Membersihkan Diri Sebelum Menata Organisasi

Ada pula warisan penting yang tidak boleh kita lupakan: Poda Na Lima:

Paias Rohamu; 

Paias Pamatangmu; 

Paias Parabitonmu; 

Paias Bagasmu; dan 

 Paias Pakaranganmu. 

Lima pesan tersebut mengajarkan kebersihan yang dimulai dari hati, diri, pakaian, rumah, hingga lingkungan.

Dalam kehidupan organisasi, pesannya sangat relevan karena:

Sebelum berbicara tentang kebesaran organisasi, kita harus terlebih dahulu membangun pribadi yang baik. 

Sebelum menuntut orang lain menjaga persaudaraan, kita harus belajar menghargai sesama.

Sebelum berbicara tentang perubahan, kita harus berani melakukan perbaikan dari diri sendiri.

Dengan nilai seperti itulah organisasi dapat tumbuh secara sehat.

Persaudaraan Harus Berbuah Kepedulian

Dalam kegiatan tersebut, hadir pula:

Perwakilan Induk Parsadaan Marga - Persatuan Keluarga Serumpun Tabagsel (PKS Tabagsel), yaitu Dr. Zuhdi Harahap, Labid SDM & Org DPP Pks Tabas Riau,

Perwakilan Bapak Walikota – Wakil Walikota Pekanbaru, yaitu Kepala Bidang Ideologi Kesbangpol Kota Pekanbaru, Bpk Andrico Septian, S.STP,

Ketua DPP ASPEKNAS Provinsi Riau, Bapak H. Aswendi, SE 

Ketua IKMP, Dr. Safarin Nasution, S.Pd.I, M.A

serta manajemen PT Bank Sumut Pekanbaru.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kehidupan organisasi masyarakat tidak berdiri sendiri.

PARHARI berada di tengah masyarakat.

Karena itu, hubungan baik dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya perlu terus dibangun. Persaudaraan yang kita bangun di internal keluarga besar Hasibuan pada akhirnya harus mampu melahirkan kepedulian yang lebih luas kepada lingkungan sosial. Marga menjadi akar. Persaudaraan menjadi kekuatan. Kepedulian menjadi manfaat.

UMKM: Dari Persaudaraan Menuju Pemberdayaan

Saya juga melihat hal menarik dari rangkaian kegiatan Milad ke-2 PARHARI: hadirnya stand-stand UMKM. ini bukan sekadar pelengkap acara. UMKM merupakan bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Karena itu, kegiatan organisasi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan silaturahmi dengan pemberdayaan.

Keluarga besar Hasibuan memiliki banyak potensi—dalam pendidikan, profesi, usaha, seni, sosial, dan berbagai bidang lainnya. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat saling dihubungkan. Organisasi tidak harus melakukan semuanya sendiri. Tetapi organisasi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan potensi anggota dengan peluang yang tersedia.

Dua Tahun Bukan Sekadar Angka

Pemotongan nasi tumpeng Milad ke-2 PARHARI menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan organisasi. Namun, bagi saya, usia dua tahun bukan alasan untuk berhenti pada perayaan. Justru usia dua tahun harus menjadi momentum untuk bertanya:

Apa yang sudah kita lakukan?

Apa yang masih perlu kita perbaiki? Dan 

Warisan apa yang ingin kita tinggalkan kepada generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar PARHARI tidak hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah matang dalam menjalankan amanah.

Persatuan Tidak Berarti Harus Sama

Saya percaya bahwa persatuan Hasibuan tidak berarti kita harus selalu memiliki pandangan, profesi, atau pengalaman yang sama.

Kita boleh berbeda.

Kita boleh tinggal di wilayah yang berbeda.

Kita boleh memiliki profesi dan latar belakang yang berbeda.

Tetapi kita memiliki satu ikatan persaudaraan.

Yang harus kita bangun adalah kemampuan untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan alasan untuk menjauh. Di sinilah semangat marsihaholongan, marsitolongan, dan marsihargaan harus terus dihidupkan: saling mengasihi, saling menolong, dan saling menghargai.

Tanggung Jawab Kita kepada Generasi Berikutnya

Pada akhirnya, tantangan terbesar PARHARI bukan hanya bagaimana membangun organisasi hari ini. Tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan bahwa anak-anak dan cucu-cucu kita kelak tetap mengenal dan bangga terhadap akar budayanya.

Kita tidak ingin generasi berikutnya hanya mengenal Hasibuan sebagai nama keluarga.

Kita ingin mereka memahami nilai di balik nama itu.

Mereka perlu mengenal sejarahnya.

Mengenal tarombonya.

Mengenal adatnya.

Mengenal bahasanya.

Mengenal seninya.

Dan yang paling penting, memahami nilai persaudaraan yang menjadi bagian dari warisan tersebut.

Jika itu berhasil dilakukan, maka budaya tidak hanya bertahan sebagai kenangan. Budaya akan hidup dalam generasi.

Mari Satukan Langkah

Pengukuhan lima Pengurus PARHARI Kabupaten/Kota dan Milad ke-2 PARHARI telah kita lalui. Tetapi pekerjaan kita baru dimulai.

Mari kita satukan langkah.

Kita kuatkan organisasi tanpa kehilangan akar budaya.

Kita jaga persaudaraan tanpa membangun sekat.

Kita hormati para orang tua dan sesepuh.

Kita beri ruang kepada generasi muda.

Kita dorong potensi anggota.

Kita bangun hubungan baik dengan masyarakat.

Dan kita jadikan PARHARI semakin bermanfaat.

Karena persatuan Hasibuan bukan sekadar slogan. 

Ia adalah pekerjaan bersama.

Dan persaudaraan bukan sekadar hubungan darah. Ia adalah nilai yang harus dirawat.

Dari Aula PTPN V Pekanbaru pada 27 September 2026, kita meneguhkan satu tekad:

Hasibuan bersatu, persaudaraan semakin kuat.

Adat terjaga, budaya tetap melekat. Hasibuat Kuat, Hasibuan Hebat

Horas! Horas! Horas!

Terkini